
Coaching dalam konteks supervisi akademik adalah suatu proses penting yang membantu peningkatan kinerja pendidik. Dalam pengalaman saya sebagai seorang supervisor akademik, saya telah menggunakan metode 4F (Peristiwa, Perasaan, Pembelajaran, Penerapan) sebagai pendekatan coaching yang efektif untuk membantu guru dalam proses akademik kami mencapai potensi maksimal mereka. Dalam jurnal refleksi ini, saya akan menuangkan pengalaman saya dalam melakukan coaching menggunakan metode ini.
Pertama-tama, peristiwa adalah tahap awal dalam coaching. Saya memulai dengan menentukan peristiwa konkret yang akan dibahas bersama pendidik yaitu proses Pra Observasi. Salah satu pengalaman yang mencolok adalah ketika seorang guru atau cochee menceritakan apa yang mau diajarkan kepada siswa yaitu mapel pilihan. Kami berbicara tentang strategi-strategi mengajar. Mengidentifikasi ini membantu fokus pada pembelajaran yang akan di ajarkan.
Selanjutnya, dalam tahap perasaan, saya mendengarkan dengan empati untuk memahami bagaimana peristiwa tersebut mempengaruhi guru secara emosional. Dalam proses ini, dia merasa senang dan tenang dalam berbagi ilmu. Dengan memberikan dukungan emosional, saya membantu guru merasa lebih percaya diri untuk mengajar. Ini adalah langkah penting untuk membangun hubungan yang baik dalam coaching.
Tahap pembelajaran adalah saat saya melihat guru tersebut masuk kelas atau proses Observasi untuk mengajar pelajaran yang bisa diambil dari peristiwa tersebut. Saya mengidentifikasi keterampilan manajemen waktu dan suasana yang santai untuk perlu ditingkatkan dan sumber daya yang bisa digunakan untuk membantu. Selain itu, saya juga melihat guru melakukan strategi untuk menghindari situasi serupa di waktu mendatang. Ini adalah saat yang penuh dengan pemahaman dan refleksi.
Terakhir, tahap penerapan adalah bagian penting dalam proses coaching yaitu Pasca Observasi. Bersama, kami mengembangkan rencana tindakan yang terstruktur dan realistis. Saya memberikan umpan balik konstruktif dan mendukung guru selama pelaksanaan rencana tersebut. Kami juga menetapkan titik evaluasi untuk mengukur perkembangan.
Melalui pengalaman coaching ini, saya merasa bahwa metode 4F sangat efektif dalam membantu guru atau teman sejawat. Ini memungkinkan kami untuk lebih mendalam dalam menganalisis peristiwa, memahami perasaan, belajar dari pengalaman, dan menerapkannya dalam praktik. Selain itu, metode ini juga memperkuat hubungan antara supervisor dan guru, menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan profesional.
Dalam masa depan, saya akan terus menerapkan metode 4F dalam coaching supervisi akademik saya. Saya yakin bahwa metode ini dapat membantu guru mencapai potensi maksimal mereka dan meningkatkan kualitas pengajaran di SMK Negeri 3 Banjarmasin.
Portofolio Digital Arif Wahyudi Tergerak untuk melakukan perubahan


